MTPC's PhotoBlog

See, Shutter, and Share …

Photography Technique : Strobist (Basic)

with 16 comments


Strobist - 03

Pada kesempatan kali ini, ijinkan saya memberikan beberapa artikel pengenalan ke salah satu sisi lain dari dunia photography yaitu Strobist.

Mungkin banyak yang kurang familiar dengan apa itu “Strobist”. Sengaja kali ini saya kenalkan kepada anggota MTPC, karena ada istilah “tak kenal maka tak sayang, kalau tidak kenal dari sekarang lalu kapan lagi?”

Strobist sendiri bisa dibilang adalah salah satu teknik dalam dunia photography (nama lainnya : Flash Photography, tapi saya akan memakai istilah “strobist” untuk kedepannya). Menurut beberapa sumber referensi yang saya baca, Strobist adalah sebuah teknik dalam photography yang berhubungan dengan cahaya (iya, photography adalah melukis di kanvas pencitraan dengan cahaya, dengan kata lain tanpa cahaya kita tidak akan dapat membuat sebuah photo). Otomatis kita juga membutuhkan apa itu yang namanya sumber cahaya. Sumber cahaya itu sendiri bisa dari flash speedite, lampu neon, atau bahkan matahari. Namun dalam pembahasan kali ini saya akan lebih menekankan bagaimana memaksimalkan penggunaan flash, dan flash yang saya maksud adalah small-flash (sb600, sb800, sb900, 430 exii, dan sejenisnya).

Pada awal mulanya small-flash bisa dibilang barang mewah, melihat dari harga per unitnya (1.5jt++) yang bisa membuat orang untuk mengencangkan ikat pinggang mereka sebulan lebih untuk mendapatkannya. Namun sekarang semuanya telah berubah. Salah satu negara yang terkenal akan membuat tembakan barang murah, telah berhasil membuat kloningan small-flash murah (mulai dari 300rb++). Jangan ditanya soal kualitas dan fungsionalitasnya, sejauh ini yang saya amati dari segi fungsionalitas pada flash murah tersebut hanya tersedia fitur M (manual mode).

Sudah bukan merupakan barang mewah inilah yang membuat flash menjadi banyak “fans” dan sudah merupakan barang wajib di lemari dry-box. Tapi masih banyak dari kita dalam membingkai sebuah karya (yang sebelumnya sudah direncanakan) hanya menyangkutkan flash kita ke hot shoe. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, namun Anda baru saja memotret tanpa menyadari kemampuan tersembunyi dari flashlite Anda.

Strobist - 01

“Lalu bagaimana menghubungkan Flash dengan body kamera secara off-shoe?”

Nah pertanyaan menarik. Ada banyak alat “penyambung” antara body kamera kita dengan flash kita, bisa melalui :

  • Kabel extension hot-shoe TTL. Kelebihan : fungsi TTL masih berjalan, Kekurangan : tampak ribet dengan kabel dimana-mana.
  • Wireless Trigger (Sinyal radio — pocket wizard, ato versi murahnya pt04tm). Kelebihan : Menggunakan sinyal radio, sehingga bisa menembus tembok atau penghalang lainnya. Kekurangan : fungsi yang tersedia hanya manual, en well harus dibilang Manual tidak seburuk yang Anda bayangkan :) (kedepannya saya akan membahas wireless trigger ini).
  • Untuk kamera Nikon, mereka dilengkapi dengan fitur CLS (Creative Lighting System), dan untuk Canon kalo tidak salah namanya e-TTL. CLS sendiri menggunakan infrared sebagai penghubung ke beberapa flash lainnya. Kelebihan memakai CLS adalah fitur i-TTL beserta setting WBnya. Kekurangannya : harus line-of-sight, dan terkadang kurang responsif apabila harus melawan cahaya yg lebih keras, matahari contohnya.

Dalam bahasa sederhanya strobist adalah sebuah teknik fotografi yang menggunakan flash, namun flash tersebut tidak berada pada hot-shoe kamera (baca : off-shoe)


hot-shoe TTL

Pocket Wizard

PT 04

Apabila dilihat dari gambar PT04 di atas akan terlihat ada transmiter (pemicu) dan receiver. Transmiter sendiri akan diletakkan pada hot shoe kamera, dan receiver akan di dipasangkan pada flash. Sehingga komunikasi radio dari transmiter di body ini lah yang akan mentrigger receiver pada flash. Ada kelebihan dan kekurangan menggunakan PT04 dibandingkan PW (Pocket Wizard).

Kelebihan kekurangan yang mencolok adalah masalah harga, harga PW per pasang unitnya bisa +-6jt (cmiiw), sedangkan PT04 sepasang cuman 200rb (beli 1 PW, bisa dapat 30 PT04, bisa buat strobist dengan flash 30 biji :D ) — sekali lagi cmiiw. Perbandingan harga yang mencolok itu lah yang membuat perbedaan fungsionalitas berbeda jauh juga, yang saya ketahui sync.speed PW bisa mencapai 1/250 – 1/320 (yg terbaru teknology hypersync.speednya sudah bisa mencapai 1/500 – 1/640++ sumber : pocketwizard.com). Bandingkan dengan PT04 yang maksimal hanya 1/200 (kadang hanya dapat 1/160) … memang Harga tidak pernah bohong.


PT04 TM Receiver

Nah oke terus apa itu Sync.Speed?! Synchronisation Speed adalah kecepatan transmiter dalam mengirim radio sinyal ke receiver dalam mengirim data. PT04 memiliki maksimal sync.speed 1/200s yg artinya batasan speed maksimal pada body kamera adalah 1/200s, lebih dari itu?! hasilnya akan gelap / gelap separuh, karena saat flash kita baru menyala, shutter kamera kita sudah menutup. (akan dijelaskan lebih detail next session)

Untuk mode cahaya yang dihasilkan : bisa saya kategorikan menjadi beberapa bagian (merasa kurang pintar teori, jadi biar safety saya ambil “beberapa”) :)

  • Ambient Light : Cahaya available yang ada di sekitar kita (misal lampu neon, matahari)
  • Flash Light : Cahaya yang dihasilkan oleh flash kita

Nah sekiranya itu lah tadi dunia Strobist, untuk peralatan kita hanya memerlukan salah satu cara dari 3 alternatif cara di atas dengan tujuan mengoff-shoekan flash kita. Untuk ilmunya bisa kita update melalui blog-blog luar tentang strobist. Untuk seputar teknikal speed, apperture, ISO, ada beberapa point yang bisa saya share yaitu : Speed mengatur Ambient Light, dan Apperture mengatur Exposure dari Flash (ini hanya berlaku untuk Indoor).

nb : Tulisan di atas adalah hasil dari pengalaman selama berkenalan dengan dunia “Strobist”, apabila ada salah kata atau salah informasi, mohon sekiranya dikoreksi. Terima Kasih

Blogs

Websites

Flash Product

Forums and groups

Training courses and workshops

Books and videos

Credits

Strobist - 02

Strobist - Love Her Madly

Written by Febry Hadinata

February 19, 2010 at 3:25 pm

Posted in Strobist

16 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Nice article. Gambarnya juga bagus-bagus.

    Gimana kalo next articlenya dibuat hands on gitu? Pake speedlite yang murah-murah aja (built in flash ga bisa yah? :P ), trus ditunjukin kalo mo buat gambar kaya diatas caranya gimana — kalo emang gambar diatas dibuat pake speedlite murah =)).

    Fajar Nurdiansyah

    February 19, 2010 at 4:26 pm

    • thanks Fajar…

      built-in flash pernah coba, tapi emang benar-benar mengecewakan *buat saya* …
      Di atas itu pake flash merk YN460 jg bisa, ini sudah termasuk murah (kalau harga pastinya bisa di check di bursa.fn) …

      Jadi tinggal beli YN460 + PT04 + kreasi = karya di atas …
      Selamat mencoba :)

      Febry Hadinata

      February 19, 2010 at 4:31 pm

  2. weh pak jagoan setor bis udah bagi2 ilmu, mantap2 fotonya, artikelnya juga bagus, keep sharing :D

    salam,
    mtpc241

    adee

    February 20, 2010 at 7:41 am

  3. Mantab gan artikel strobisnya ! . Thx for sharing link2 nya gan :D

    ronyherdiyanto

    February 20, 2010 at 2:54 pm

  4. Jadi ingat masa kanak-kanak kalau lihat flash kayak gini. Sering jadi mainanku dan adikku. Sayang waktu udah mulai bisa pegang kamera, kamera ayahku sudah dihilangkan kawannya. Jadi tak bisa mewarisi deh.. hihihi..

    Kembali ke topik.
    Kalau yang dimaksud dengan Strobist itu apakah harus dengan lampu flash? Aku pernah melihat karya fotografer yang, menurut pengakuannya, hanya menggunakan lampu dari ponsel sebagai sumber cahayanya dengan obyek papan catur transparant. Apakah itu bisa digolongkan sebagai Strobist?

    kunderemp

    February 23, 2010 at 2:45 am

    • mencoba menjawab pertanyaan lampu dari ponsel …
      harusnya sudah termasuk Strobist (prinsipnya sama dgn continuous light) — cmiiw
      Hanya kita tau sendiri kekuatan lampu ponsel pasti membuat kita bermain slowspeed, dengan ISO tinggi, dan apperture lebar … (untuk still life mungkin masih oke, tapi tidak untuk yang lain)

      Febry Hadinata

      February 24, 2010 at 11:22 am

  5. saking hebat foto2nya lupa berkata2….mantep gan…
    tapi sharenya mungkin perlu ke arah praktek juga…
    hehehe….

    myudistira

    February 24, 2010 at 8:38 am

    • Prakteknya – Coming Soon :)
      *nunggu ketuanya posting dulu*

      Febry Hadinata

      February 24, 2010 at 11:25 am

      • iya nih…siapa sih ketua MTPC..
        payah ah :D

        myudistira

        February 24, 2010 at 2:53 pm

      • iya ketua mtpc payah *sambil nungguin sharing knowledge strobist*

        Adee

        March 4, 2010 at 1:33 pm

  6. wah teknik ini lumayan bagus dan layak dicoba, menurut pengamatanku teknik ini dapat membuat sebuah barang terkesan mewah

    abu amar fikri

    March 31, 2010 at 6:59 pm

  7. manntafff om

    Anisa

    April 13, 2011 at 8:31 pm

  8. Mantebb artikelnya om! ;-)

    Oh, iya, ane pernah maen strobist pake external flash tapi nggak pake trigger. Flash tersebut nyala barengan kalo built-in flash nyala..
    Nah, parahnya, ane lupa tu flash jenis apa.. (Maklum, flash pinjeman :-D )

    Nah, bisa bantu nggak tu flash jenis apa, knp bisa gt?? Dan apa cuma bisa dipake ke satu flash itu aja, apa bisa lebih dari satu (selama jenis flash-nya sama)??

    Thx ;-)

    Dicky Bisinglasi

    May 18, 2012 at 12:11 pm

    • @Dicky
      kalo yang trigger flash by flash built in setau saya Nikon dengan teknologi CLSnya :)

      Febry Hadinata

      May 18, 2012 at 2:45 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.